TANPA ETIKA DALAM KEPEMIMPINAN BISNIS, PENYALAHGUNAAN AKAN BERKUASA
Kekuasaan mutlak ditangan orang-orang yang
kuat integritas pribadinya, akan menjadikan kekuatan mutlaknya itu
diawasi secara otomatis oleh kekuatan etika. Sedangkan kekuasaan mutlak
ditangan orang-orang yang
rendah integritasnya, akan merusak kualitas kekuasaan yang dimiliki, dan
berpotensi melemahkan kekuatan etika yang ada di dalam perusahaan.
Cara
mencegah penyalahgunaan kekuasaan kepemimpinan di dalam bisnis adalah
dengan menjalankan etika bisnis, sepenuh hati dari tanggung jawab dan
integritas pribadi.
Pengabaian
terhadap etika akan meningkatkan risiko. Etika adalah rem yang menjaga
batas dan tanggung jawab seseorang di dalam organisasi. Batas dan
tanggung jawab ini selain bersumber dari kebijakan perusahaan, juga
bersumber dari kekuatan moral pribadi dan moral organisasi.
Kekuasaan
setiap pemimpin bisnis wajib menjadi terbatas. Bila kekuasaan menjadi
tak terbatas, maka akan terjadi peningkatan risiko di semua aspek
organisasi, dan juga akan sering terjadi keputusan-keputusan yang tanpa
disadari telah melanggar etika.
Dalam
realitas kepemimpinan di tempat kerja, sering sekali para pemimpin
jujur dan pintar untuk menanggapi kekuatan dan kelemahan orang lain.
Tetapi, saat harus menilai dirinya sendiri, ia akan menjadi tidak jujur.
Sebab, kekuasaan dan kekuatan yang ia miliki telah meningkatkan
ketidaksadaran ego atas pentingnya etika dan integritas, sehingga ego
marah kalau kepentingannya dikoreksi.
Bila
kepemimpinan yang sangat berkuasa mengabaikan etika, maka tidak
seorangpun yang akan berani untuk memberikan pendapat tentang hal ini.
Biasanya, semua orang akan pura-pura tidak tahu ketika melihat
penyimpangan etika. Alasan orang pura-pura tidak tahu, karena ketakutan
mereka untuk menyinggung perasaan dan kehormatan dari kekuasaan
tertinggi mereka.
Penyimpangan
etika yang bersumber dari puncak organisasi sangatlah berisiko tinggi.
Salah satu contohnya adalah perusahaan energi terbesar di dunia, Enron.
Penyimpangan etika yang bersumber dari puncak organisasi telah membuat Enron bangkrut.
Kekuasaan dan kekuatan kepemimpinan wajib tunduk pada kekuasaan etika dan integritas. Sebab, hal ini akan menjadikan kepemimpinan lebih rendah hati untuk bertanggung jawab atas setiap keputusan di dalam perusahaan.
Kejujuran
kepemimpinan atas operasional dan tindakan akan menurunkan risiko yang
merugikan perusahaan. Kejujuran akan meningkatkan kualitas moral dari
setiap orang, dan juga membudayakan perilaku etis yang kuat di semua
aspek organisasi.
Perilaku
etis akan menjadi energi peningkatan karir. Bila kepemimpinan cerdas
menciptakan budaya dan lingkungan kerja yang taat etika dan memiliki
loyalitas kepada kemajuan pencapaian tertinggi organisasi, maka setiap
orang berpotensi tumbuh dan besar bersama perusahaan.
Kepemimpinan
yang etis biasanya ikhlas untuk mendengarkan suara dari bawahan, serta
tidak mengabaikan setiap kritikan dari manapun.
Kepemimpinan
yang etis sadar akan aksesnya ke sumber daya perusahaan, sehingga ia
akan menciptakan sistem yang kuat agar aksesnya ini berada di dalam
transparansi dan akuntabilitas maksimal.
Kepemimpinan
yang etis selalu memperkuat sistem dan tata kelola agar check and
balances di setiap operasional perusahaan mampu mencapai tingkat yang
lebih maksimal.
Kepemimpinan yang etis selalu bekerja tanpa henti untuk menghasilkan perbaikan berkelanjutan.
Kepemimpinan
yang etis tidak akan sampai hati mengambil imbalan finansial yang lebih
besar, saat keuangan perusahaan sedang dalam kekuarangan.
Kepemimpinan
yang etis selalu menjalani pola hidup dengan kerendahan hati,
mendengarkan, membuat keputusan dengan hati-hati, lebih tegas dan pasti,
serta membuat budaya kerja yang terpercaya di dalam kolaborasi yang
etis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar